Pahlawan Nasional

Posted On September 23, 2012

Filed under History

Comments Dropped one response

Nama                               : Raden Dewi Sartika

Tempat/Tanggal Lahir  : Bandung, 4 December 1884

Wafat                                : 11 Septermber 1947

Tempat Dimakamkan   : Karang Anyer, Bandung

Raden Dewei Sartika adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum perempuan. Ayahnya, Raden Somanagara adalah seorang pejuang kemerdekaan. Sepeninggal ayahnya, Dewi Sartika dirawat oleh pamannya yang berkedudukan sebagai patih di Cicalengka. Dari pamannya, beliau mendapat didikan mengenai kesundaan, sedangkan wawasan kebudayaan Barat diperolahnya dari seorang nyonya Asisten Residen Belanda.Beliau sering memperagakan praktik di sekolah, mengajari baca-tulis dan Bahasa Belanda kepada anak-anak pembantu di kepatihan.

Beliau kemudian mendirikan sekolah di Bandung, Jawa Barat agar anak-anak perempuan di sekitarnya mendapat kesempatan menuntut ilmu. Dengan bantuan kakeknya, R.A.A Martanegara dan Den Hamer yang menjabat sebagai Inspektur Kantor Pengajaran pada saait itu, beliau berhasil  mendirikan sebuah sekolah yang bernama ‘Sekolah Isteri’ pada tahun 1904.

Murid-murid terus bertambah banyak hingga ruangan Kepatihan Bandung yang digunakan sebagai ruang kelas tidak cukup lagi untuk menampung murid-murid. Maka itu, Sekolah Isteri dipindahkan ke tempat yang lebih luas. Enam tahun kemudian, pada tahun 1910, nama Sekolah Isteri diubah menjadi Sekolah Keutamaan Isteri. Pada saat itu, mata pelajaran juga bertambah.

Ia berusaha keras mendidik anak-anak gadis agar kelak bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik. Untuk itu, pelajaran yang berhubungan dengan pembinaan rumah tangga banyak diberikannya. Untuk menutupi biaya operasional sekolah, beliau membanting tulang mencari dana. Semua jerih payahnya itu tidak dirasakannya jadi beban, tapi berganti menjadi kepuasan batin karena telah berhasil mendidik kaumnya.

Pada tahun-tahun berikutnya di beberapa wilayah Pasundan bermunculan beberapa Sakola Istri, terutama yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika. Pada tahun 1912 sudah berdiri sembilan Sakola Istri di kota-kota kabupaten.

Nama                               : Sultan Ageng Tirtayasa

Tempat/Tanggal Lahir  : Banten, 1631

Wafat                                : Jakarta, 1692

Tempat Dimakamkan   : Masjid Agung Banten

Sultan Ageng Tirtayasa adalah putra Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad yang menjadi Sultan Banten pada tahun 1640 – 1650. Ketika kecil, ia bergelar Pangeran Surya. Ketika ayahnya wafat, ia diangkat menjadi Sultan Muda yang bergelar Pangeran Ratu atau Pangeran Dipati. Setelah kakeknya meninggal dunia, ia diangkat sebagai sultan dengan gelar Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah.

Nama Sultan Ageng Tirtayasa berasal ketika ia mendirikan keraton baru di dusun Tirtayasa yang terletak di Kabupaten Serang. Ia dimakamkan di Mesjid Banten.

Sultan Ageng Tirtayasa berkuasa di Kesultanan Banten pada periode 1651 – 1682. Ia memimpin banyak perlawanan terhadap Belanda. Pada masa itu, VOC menerapkan perjanjian monopoli perdagangan yang merugikan Kesultanan Banten. Kemudian Tirtayasa menolak perjanjian ini dan menjadikan Banten sebagai pelabuhan terbuka.

Saat itu, Sultan Ageng Tirtayasa ingin mewujudkan Banten sebagai kerajaan Islam terbesar. Di bidang ekonomi, Tirtayasa berusaha meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan membuka sawah-sawah baru dan mengembangkan irigasi. Di bidang keagamaan, ia mengangkat Syekh Yusuf sebagai mufti kerajaan dan penasehat sultan.

Ketika terjadi sengketa antara kedua putranya, Sultan Haji dan Pangeran Purbaya, Belanda ikut campur dengan bersekutu dengan Sultan Haji untuk menyingkirkan Sultan Ageng Tirtayasa. Saat Tirtayasa mengepung pasukan Sultan Haji di Sorosowan (Banten), Belanda membantu Sultan Haji dengan mengirim pasukan yang dipimpin oleh Kapten Tack dan de Saint Martin.

Nama                               : Tengku Cik Ditiro

Tempat/Tanggal Lahir  : Pidie, 1836

Wafat                                : Benteng, Aneuk Galong, Januari 1891

Tempat Dimakamkan   : Indrapura, Aceh

Sejak kecil Teungku Cik Di Tiro yang bernama asli Muhammad Saman telah terbiasa tinggal dan hidup di lingkungan pesantren. Disitu ia banyak menimba ilmu dari beberapa ulama terkenal di Aceh. Setelah merasa cukup berguru, Muhammad Saman lalu menunaikan ibadah haji di Mekkah dan sekembalinya dari Kota Mekkah, Muhammad Saman menjadi guru agama di Tiro Sehingga ia lalu dikenal dengan nama Teungku Cik Di Tiro.

Tahun 1873, Muhammad Saman melakukan perlawanan kepada VOC Belanda yang bermaksud memasukkan daerah Aceh ke dalam wilayah jajahannya. Bahkan pada tahun 1873 dalam peperangan yang hebat, Panglima Perang Belanda, Mayor Jenderal JHR Kohler tewas terbunuh dalam perang tersebut.

Hal itu membuat Belanda marah besar dan mengirimkan pasukan dalam jumlah yang besar dan kuat untuk memerangi Aceh. Pasukan Marsose belanda menyisir semua daerah Aceh untuk menangkapi pejuang-pejuang Aceh sekaligus mempersempit ruang gerak pahlawan-pahlawan Aceh ini.

Namun hal itu malah membuat Aceh semakin kuat, terbukti dengan direbutnya benteng-benteng Belanda satu per satu mulai dari Benteng Indrapuri, hingga Benteng Lambaro dan Benteng Aneuk Galong. Satu-satunya pertahanan belanda Cuma di wiayah Banda Aceh.

Tentu saja Belanda memikirkan cara lain yang licik untuk bisa melumpuhkan Teungku CIk Di Tiro yang menjadi pemegang kunci perjuangan rakyat Aceh. Akhirnya cara licik dipakai Belanda.
Cik Di Tiro diracun melalui makanan yang dibawa oleh kaki tangan Belanda dan meninggal pada bulan Januari 1891.

Atas jasa-jasanya Muhammad Saman alias Teungku Cik Di Tiro diangkat Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI.

Nama                              : I Gusti Jelantik/Ngurah Rai

Tempat/Tanggal Lahir  : Pidie, 1836

Wafat                                : Benteng, Aneuk Galong, Januari 1891

Tempat Dimakamkan   : Karang Asem

Pada masa itu,di bali terdapat Hukum hak Tawan Karam yaitu suatu hak bagi kerajaan yang dapat menyita dan menguasai kapal-kapal yang terdampar di sepanjang Pantai Pulau Bali. Banyak Kapal-kapal milik Belanda yang terkena hukum ini sehingga Belanda merasa amat dirugikan karena adanya hukum ini.

Tahun 1843 Belanda memaksa raja-raja di bali untuk menghapuskan hukum hak Tawan Karang. namun beberapa tahun kemudian, Raja Buleleng tetap merampas kapal milik Belanda yang karam di perairannya. Hal inilah yang memicu peperangan antara Belanda dan Kerajaan Buleleng. Peperangan ini bahkan akhirnya menyebar hingga ke seluruh Bali.

I Gusti Ketut Jelantik/Ngurah Rai adalah Patih Agung kerajaan Buleleng yang amat membenci belanda. Tanggal 27 Juni 1846, Belanda menyerang Kerajaan buleleng dan berhasil menduduki Istana Buleleng. Raja Buleleng dan Patih Jelantik kemudian mundur ke Jagaraga.

Pada tahun 1849, Belanda kembali menyerang Jagaraga. Tanggal 16 April 1849, Belanda berhasil menguasai Jagaraga. Belanda terus dan terus mengejar Patih Jelantik dan pasukannya dan pada pertempurandi Perbukitan Bale Pundak, Patih Jelantik gugur.

I Gusti Ketut Jelantik dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No 077/TK/1993

Nama                               : Sutomo (Bung Tomo)

Tempat/Tanggal Lahir  : Surabaya – 3 Oktober 1920

Wafat                                : Makkah – 7 Oktober 1981

Tempat Dimakamkan   : Makam Umum Ngagel

Sutomo (Surabaya, 3 Oktober 1920 – Makkah, 7 Oktober 1981) atau Bung Tomo adalah pahlawan yang terkenal karena peranannya dalam membangkitkan semangat rakyat untuk melawan kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA dan berakhir dengan peristiwa pertempuran 10 November 1945 yang hingga kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Sutomo pernah bekerja sebagai pegawai pemerintahan, ia menjadi staf pribadi di sebuah perusahaan swasta, sebagai asisten di kantor pajak pemerintah, dan pegawai kecil di perusahan ekspor-impor Belanda.

Ia juga pernah bekerja sebagai polisi di kota Praja dan pernah pula menjadi anggota Sarekat Islam, sebelum ia pindah ke Surabaya dan menjadi distributor untuk perusahaan mesin jahit “Singer”.

Pada usia 12 tahun, Sutomo meninggalkan pendidikannya di MULO karena ia harus melakukan berbagai pekerjaan untuk mengatasi masalah ekonomi keluarga. Kemudian ia menyelesaikan pendidikan HBS melalui korespondensi, namun tidak pernah resmi lulus. Sutomo kemudian bergabung dengan KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Pada usia 17 tahun, ia berhasil menjadi orang kedua di Hindia Belanda yang mencapai peringkat “Pandu Garuda”.

Sutomo pernah menjadi seorang jurnalis. Kemudian ia bergabung dengan sejumlah kelompok politik dan sosial. Ia terpilih pada tahun 1944 menjadi anggota Gerakan Rakyat Baru. Bulan Oktober dan November 1945, ia berusaha membangkitkan semangat rakyat pada saat Surabaya diserang oleh tentara NICA dengan seruan-seruan pembukaannya di dalam siaran-siaran radio yang penuh dengan emosi.

Setelah kemerdekaan Indonesia, Sutomo pernah aktif dalam politik pada tahun 1950-an. Namun pada awal tahun 1970-an, ia berbeda pendapat dengan pemerintahan Orde Baru. Ia berbicara keras terhadap program-program presiden Soeharto sehinga pada 11 April 1978 ia ditahan oleh pemerintah selama setahun karena kritik-kritiknya yang keras.

Pada tanggal 7 Oktober 1981, Sutomo meninggal dunia di Makkah, ketika sedang menunaikan ibadah haji. Jenazah Bung Tomo dibawa kembali ke Indonesia dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel, Surabaya”.

Masa Pemuda:

1. Wartawan free lance pada Harian Soeara Oemoem di Surabaya 1937.
2. Wartawan dan penulis pojok harian berbahasa Jawa, Ekspres di Surabaya 1939.
3. Redaktur Mingguan Pembela Rakyat, di Surabaya 1938.
4. Pembantu koresponden untuk Surabaya, Majalah Poestaka Timoer Jogjakarta, sebelum perang di bawah asuhan almarhum Anjar Asmara.
5. Wakil pemimpin redaksi kantor berita pendudukan Jepang Domei bagian Bahasa Indonesia, untuk seluruh Jawa Timur di Surabaya 1942-1945. Dan memberitakan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dalam tulisan bahasa Jawa, bersama wartawan senior Romo Bintarti (untuk menghindari sensor balatentara Jepang).
6. Pemimpin Redaksi Kantor Berita Indonesia Antara di Surabaya 1945.

Nama                               : Raden Ajeng Kartini

Tempat/Tanggal Lahir  : Jepara, Jawa Tengah – 21 April tahun 1879

Wafat                                : 17 september 1904

Tempat Dimakamkan   : Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang

Setelah lulus dari Sekolah Dasar ia tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orangtuanya. Ia dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan. Kartini kecil sangat sedih dengan hal tersebut, ia ingin menentang tapi tak berani karena takut dianggap anak durhaka. Untuk menghilangkan kesedihannya, ia mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya yang kemudian dibacanya di taman rumah dengan ditemani Simbok.
Akhirnya membaca menjadi kegemarannya, tiada hari tanpa membaca. Semua buku, termasuk surat kabar dibacanya. Kalau ada kesulitan dalam memahami buku-buku dan surat kabar yang dibacanya, ia selalu menanyakan kepada Bapaknya. Melalui buku inilah, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita Eropa (Belanda, yang waktu itu masih menjajah Indonesia). Timbul keinginannya untuk memajukan wanita Indonesia. Wanita tidak hanya didapur tetapi juga harus mempunyai ilmu. Ia memulai dengan mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Ditengah kesibukannya ia tidak berhenti membaca dan juga menulis surat dengan teman-temannya yang berada di negeri Belanda. Tak berapa lama ia menulis surat pada Mr.J.H Abendanon. Ia memohon diberikan beasiswa untuk belajar di negeri Belanda.
Beasiswa yang didapatkannya tidak sempat dimanfaatkan Kartini karena ia dinikahkan oleh orangtuanya dengan Raden Adipati Joyodiningrat. Setelah menikah ia ikut suaminya ke daerah Rembang. Suaminya mengerti dan ikut mendukung Kartini untuk mendirikan sekolah wanita. Berkat kegigihannya Kartini berhasil mendirikan Sekolah Wanita di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”. Ketenarannya tidak membuat Kartini menjadi sombong, ia tetap santun, menghormati keluarga dan siapa saja, tidak membedakan antara yang miskin dan kaya.
Pada tanggal 17 september 1904, Kartini meninggal dunia dalam usianya yang ke-25, setelah ia melahirkan putra pertamanya. Setelah Kartini wafat, Mr.J.H Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada para teman-temannya di Eropa. Buku itu diberi judul “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT” yang artinya “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Saat ini mudah-mudahan di Indonesia akan terlahir kembali Kartini-kartini lain yang mau berjuang demi kepentingan orang banyak. Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria.

Nama                               : Supriyadi

Tempat/Tanggal Lahir  : Trenggalek, Jawa Timur – 13 April 1923

Wafat                                : Tidak Diketahui

Tempat Dimakamkan   : Tidak Diketahui

Pada bulan Oktober 1943, Jepang membentuk Tentara Pembela Tanah Air (PETA). PETA dibentuk dengan tujuan untuk memberikan latihan kemiliteran kepada pemuda-pemuda Indonesia. Mereka selanjutnya akan dipakai untuk membantu Jepang menahan serbuan sekutu. Tetapi, tokoh-tokoh pergerakan nasional berhasil menanamkan perasaan kebangsaan di kalangan pemuda-pemuda tersebut. Supriyadi diangkat menjadi Shondanco (Komandan Peleton) Peta.

Suprijadi mengikuti pendidikan peta dan sesudah itu diangkat menjadi Shodanco di Blitar.Ia sering bertugas mengawasi para romusha membuat benteng-benteng pertahanan dipantai selatan.Ia menyaksikan bagaimana sengsaranya para romusya.Makanan kurang dan kesehatan tidak terjamin.Banyak diantaranya yang meninggal dunia karena sakit.Suprijadi tidak tahan melihat keadaan itu.Dengan beberapa orang temanya,ia merencanakan pemberontakan melawan jepang.Walaupun menyadari bahwa waktu itu Jepang sangat kuat,namun ia tetap berniat untuk melakukan perlawanan.

Pemberontakan dilancarkan dini hari tanggal 14 Februari 1945,di Daidan, Blitar.Jepang sangat terkejut mendengar perlawanan tersebut.Mereka mengerahkan kekuatan yang besar untuk menangkap anggota-anggota pasukan Peta Blitar.Selain itu,dilakukan pula siasat membujuk beberapa tokoh pemberontak.karena kurang pengalaman dan kekuatan tidak seimbang pemberontakan itu ditindas Jepang.Tokoh-tokoh pemberontak yang tertangkap,diadili dalam mahkamah militer Jepang.Ada yang dihukum mati dan ada pula yang dipenjara. Suprijadi tidak ikut diadili,bahkan namanya tidak disebutkan dalam sidang pengadilan. Supriyadi dinyatakan hilang dan tidak pernah hadir dlam sidang pengadilan.Dikarenakan Supriyadi masih menjadi target teror agen-agen tentara sekutu (NICA) sehingga sering bersembunyi dikaki bukit di kota kelahirannya, Trenggalek,Jawa Timur.

Nama                               : I Gusti Ngurah Rai

Tempat/Tanggal Lahir  : Carang Sari Kabupaten Badung – 30 Januari 1917

Wafat                                : 20 November 1946

Tempat Dimakamkan   : Gusti Nguruh Rai

Setelah Indonesia Merdeka pemerintah Indonesia I Gusti Ngurah Rai membentuk TKR Sunda Kecildan beliau menjadi komandannya dengan pangkat Letnal Kolonel. Ngurah Rai kemudian pergi ke Yogyakarta untuk konsolidasi dan mendapatkan petunjuk dari pimpinan TKR. Sekembalinya dari Yogyakarta, Bali ternyata sudah dikuasai Belanda.

I Gusti Ngurah Rai kemudian membentuk kembali pasukannya yang telah tercerai beraidan memberi nama pasukannya Ciung Wanara. Setelah itu mereka melakukan penyergapan terhadap kedudukan Belanda di Desa Marga Tabanan Bali. Belanda kemudian melancarkan serangan besar-besaran lewat darat dan udara. Ngurah Rai kemudian meminta pasukannya untuk perang puputan (habis-habisan). Ia gugur bersama seluruh anggota pasukannya di sebelah timur laut tabanan (Bali Selatan). Perang tersebut terkenal dengan sebutan Puputan Margarana. Untuk menghormati jasanya, Pemerintah RI memberikan gelar pahlawan nasional berdasarkan SK Presiden RI no 63/TK/1975 tanggal 9 Agustus 1975.

 

Nama                               : Sultan Iskandar Muda

Tempat/Tanggal Lahir  : Banda Aceh – 1593

Wafat                                : Banda Aceh – 27 September 1636

Tempat Dimakamkan   : Banda Aceh

Sultan Iskandar Muda memerintah Kerajaan Aceh pada tahun 1607 sampai dengan 1636. Sebelum menjadi Sultan Aceh, ia bernama Johan Perkasa Alam. Di bawah kepemimpinannya, Kerajaan Aceh mencapai puncak kejayaannya sebagai salah satu kerajaan besar di Nusantara. Wilayah kekuasaan Kesultanan Aceh mencapai Malaysia, Sumatera Barat, Sumatera Timur dan Semenanjung Melayu. Bukan itu saja, Aceh juga menjadi pusat peradaban kebudayaan Aceh disamping juga sebagai salah satu pusat perniagaan terbesar pada saat itu. Sehingga Aceh sampai sekarang digelari Serambi Makkah.

Portugis yang telah menguasai Malaka sejak tahun 1511, tidak pernah mampu menguasai Aceh. Tahun 1615, Iskandar Muda melakukan penyerangan ke Malaka, namun upaya ini dapat digagalkan oleh Portugis.

Tahun 1629, Sultan Iskandar Muda kembali menyerang Portugis di Malaka. Kali ini hampir saja Malaka berhasil dikuasai oleh pasukan-pasukan Sultan Iskandar Muda, jika portugis tidak mendapat bantuan dari Kerajaan Johor, Pahang dan Patani.

Sultan Iskandar Muda wafat pada usia 43 tahun. Namun hingga akhir hayatnya, ia berhasil membawa Aceh ke puncak kejayaan dan kemakmuran. Sultan Iskandar Muda dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No 077/TK/1993.

 

Nama                               : Jenderal Sudirman

Tempat/Tanggal Lahir  : Bodas Karangjati, Purbalingga – 24 Januari 1916

Wafat                                : Magelang – 29 Januari 1950

Tempat Dimakamkan   : Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta

Jenderal Sudirman merupakan salah satu tokoh besar di antara sedikit orang lainnya yang pernah dilahirkan oleh suatu revolusi. Saat usianya masih 31 tahun ia sudah menjadi seorang jenderal. Meski menderita sakit paru-paru yang parah, ia tetap bergerilya melawan Belanda. Ia berlatarbelakang seorang guru HIS Muhammadiyah di Cilacap dan giat di kepanduan Hizbul Wathan.

Ketika pendudukan Jepang, ia masuk tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor yang begitu tamat pendidikan, langsung menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TNI). Ia merupakan Pahlawan Pembela Kemerdekaan yang tidak perduli pada keadaan dirinya sendiri demi mempertahankan Republik Indonesia yang dicintainya. Ia tercatat sebagai Panglima sekaligus Jenderal pertama dan termuda Republik ini.

Sudirman merupakan salah satu pejuang dan pemimpin teladan bangsa ini. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya. Ia selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara. Hal ini boleh dilihat ketika Agresi Militer II Belanda. Ia yang dalam keadaan lemah karena sakit tetap bertekad ikut terjun bergerilya walaupun harus ditandu. Dalam keadaan sakit, ia memimpin dan memberi semangat pada prajuritnya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Itulah sebabnya kenapa ia disebut sebagai salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh revolusi negeri ini.

Sudirman yang dilahirkan di Bodas Karangjati, Purbalingga, 24 Januari 1916, ini memperoleh pendidikan formal dari Sekolah Taman Siswa, sebuah sekolah yang terkenal berjiwa nasional yang tinggi. Kemudian ia melanjut ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo tapi tidak sampai tamat. Sudirman muda yang terkenal disiplin dan giat di organisasi Pramuka Hizbul Wathan ini kemudian menjadi guru di sekolah HIS Muhammadiyah di Cilacap. Kedisiplinan, jiwa pendidik dan kepanduan itulah kemudian bekal pribadinya hingga bisa menjadi pemimpin tertinggi Angkatan Perang.

Sementara pendidikan militer diawalinya dengan mengikuti pendidikan tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Setelah selesai pendidikan, ia diangkat menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Ketika itu, pria yang memiliki sikap tegas ini sering memprotes tindakan tentara Jepang yang berbuat sewenang-wenang dan bertindak kasar terhadap anak buahnya. Karena sikap tegasnya itu, suatu kali dirinya hampir saja dibunuh oleh tentara Jepang.

Setelah Indonesia merdeka, dalam suatu pertempuran dengan pasukan Jepang, ia berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas. Itulah jasa pertamanya sebagai tentara pasca kemerdekaan Indonesia. Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. Dan melalui Konferensi TKR tanggal 2 Nopember 1945, ia terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia. Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1945, pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden. Jadi ia memperoleh pangkat Jenderal tidak melalui Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya sebagaimana lazimnya, tapi karena prestasinya.

Ketika pasukan sekutu datang ke Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang, ternyata tentara Belanda ikut dibonceng. Karenanya, TKR akhirnya terlibat pertempuran dengan tentara sekutu. Demikianlah pada Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Sudirman terlibat pertempuran melawan tentara Inggris di Ambarawa. Dan pada tanggal 12 Desember tahun yang sama, dilancarkanlah serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris. Pertempuran yang berkobar selama lima hari itu akhirnya memaksa pasukan Inggris mengundurkan diri ke Semarang.

Pada saat pasukan Belanda kembali melakukan agresinya atau yang lebih dikenal dengan Agresi Militer II Belanda, Ibukota Negara RI berada di Yogyakarta sebab Kota Jakarta sebelumnya sudah dikuasai. Jenderal Sudirman yang saat itu berada di Yogyakarta sedang sakit. Keadaannya sangat lemah akibat paru-parunya yang hanya tingggal satu yang berfungsi.

Dalam Agresi Militer II Belanda itu, Yogyakarta pun kemudian berhasil dikuasai Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta serta beberapa anggota kabinet juga sudah ditawan. Melihat keadaan itu, walaupun Presiden Soekarno sebelumnya telah menganjurkannya untuk tetap tinggal dalam kota untuk melakukan perawatan. Namun anjuran itu tidak bisa dipenuhinya karena dorongan hatinya untuk melakukan perlawanan pada Belanda serta mengingat akan tanggungjawabnya sebagai pemimpin tentara.

Maka dengan ditandu, ia berangkat memimpin pasukan untuk melakukan perang gerilya. Kurang lebih selama tujuh bulan ia berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lain, dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit dan lemah sekali sementara obat juga hampir-hampir tidak ada. Tapi kepada pasukannya ia selalu memberi semangat dan petunjuk seakan dia sendiri tidak merasakan penyakitnya. Namun akhirnya ia harus pulang dari medan gerilya, ia tidak bisa lagi memimpin Angkatan Perang secara langsung, tapi pemikirannya selalu dibutuhkan.

Sudirman yang pada masa pendudukan Jepang menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Keresidenan Banyumas, ini pernah mendirikan koperasi untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan. Jenderal yang mempunyai jiwa sosial yang tinggi, ini akhirnya harus meninggal pada usia yang masih relatif muda, 34 tahun.

Pada tangal 29 Januari 1950, Panglima Besar ini meninggal dunia di Magelang dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan.

One Response to “Pahlawan Nasional”

  1. Mr. Jhonni Anto

    Informasi yang dicantumkan dalam artikel tentang pahlawan nasional sudah sesuai dengan kriteria penilaian, karena mencakup gambar pahlawan, tempat lahir dan dimakamkan, tanggal lahir dan meninggal serta perjuangan yang dilakukan. Good job

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s